Eksistensi Manusia dalam Filsafat Pendidikan: Studi Komparatif Filsafat Barat dan Filsafat Islam
Yoyo Hambali dan Siti Asiah
Abstract: The purpose of this paper is intended to explain human existence in the philosophy of education. This paper explores on human existence according to Western philosophy and the Islamic philosophy. This paper uses the method-comparative analysis. This paper shows that problems of human existence (the problem of human being) are an important issue in the philosophy education because education as human needs cannot be separated from the human himself. Humans are “homo educandum”, the creature that can educate and be educated. Education itself is related to the existence of teachers and students as human beings. In this paper, the experts note that western philosophy and Islamic philosophy has a great attention to human existence in which human existence is discussed in the branch of philosophy that both ontology and anthropological philosophy. The thought of Western philosophy is not holistic, very mechanistic, and pragmatic. The thought of Islamic philosophy is eclectic, integral and holistic. In the field of Islamic education which is characterized by an emphasis on the importance of all aspect/dimensions of human being: physical, spiritual, intellect, soul, and mind.
Pendahuluan
Persoalan eksistensi (problem of exixtence) merupakan salah satu bahasan dalam filsafat. Persoalan eksistensi (keberadaan) dan hakikat yang ada dikaji secara khusus dalam Ontologi. Dalam ontolog dikaji me-ngenai eksistensi Tuhan, alam dan manusia. Kajian yang terakhir, yaitu mengenai eksistensi manusia men-dapatkan perhatian yang cukup besar terutama sejak munculnya filsafat Socrates. Perlu diketahui, bahwa sebe-lum munculnya Socrates (Pra-Socra-tes) perhatian para filsuf lebib diarah pada penelitian mengenai eksistensi alam seperti asal-usul alam (arche). Namun pasca-Socrates perha-tian filsafat lebih diarahkan pada persoalan manusia. Sebuah ungkapan dari Socra-tes yang diukir dikuil Delphi, “Kenali-lah dirimu”, secara eksplisit menun-jukkan perhatian para filsuf terhadap eksistensi manusia. Masalah eksistensi manusia ini secara khusus dikaji juga dalam filsafat manusia atau antro-pologi filsafat yang biasanya berisi pembahasan sekitar siapa, dari mana dan hendak ke mana manusia itu?
Dalam perkembangan filsafat, setelah munculnya agama Kristen per-hatian terhadap eksistensi manusia terutama ditunjukkan oleh para filsuf gereja. Santo Augustinus dan Santo Thomas Aquinas adalah dua tokoh fil-suf gereja yang berupaya menda-maikan filsafat dan ajaran Kristen khususnya tentang eksistensi manusia. Jadi keberadaan manusia menurut Injil dipahami secara filosofis.
Selanjutnya, perhatian para filsuf terhadap eksistensi manusia juga ber-lanjut pada masa modern dan post-modern sehingga ada berbagai macam pemikiran dan aliran filsafat tentang manusia hingga dewasa ini. Yang tidak dapat dikesampingkan juga pe-mikiran tentang eksistensi manusia menurut filsafat Islam. Tidak sedikit karya-karya para filsuf Muslim yang membahas tentang eksistensi manusia. Pemikiran tentang eksistensi manusia baik menurut filsafat Barat maupun menurut filsafat Islam yang berguna dalam dunia pendidikan. Cabang filsafat yang secara khusus membahas pendidikan adalah filsafat pendidikan.
Filsafat pendidikan merupakan filsafat yang membahas pendidikan menurut metode filsafat. Filsafat pen-didikan menginginkan suatu pema-haman tentang pendidikan secara rasional, kritis, radikal, dan universal. Rasional dapat diterima oleh akal budi, kritis terbuka untuk dipersolakan kembali, radikal sampai keakarnya, dan universal kebenarannya dapat diteima oleh siapapun dan kapanpun. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam adalah filsafat yang membahas teori-teori pendidikan Islam secara rasional, kritis, dan radikal, untuk me-nemukan kebenaran yang universal. Filsafat pendidikan Islam juga meru-pakan kajian yang membahas pen-didikan Islam menurut para ahli filsa-fat Islam dalam lingkungan komunitas (umat) Islam.
Filsafat pendidikan merupakan bi-dang filsafat terapan, mulanya juga dari bidang tradisional filsafat seperti ontologi, etika, epistemologi, me dan pendekatan (filsafat spekulatif, pres-kriptif, dan/atau analitis) untuk menja-wab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, perkembangan manusia, dan teori kurikulum. Dengan kata lain, filsafat pendidikan adalah studi filo-sofis tentang tujuan, proses, alam dan cita-cita pendidikan.
Salah satu kajian dalam filsafat pendidikan adalah tentang hakikat dan eksistensi manusia. Mempelajari haki-kat dan eksistensi manusia dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, filsafat pendidikan berguna untuk mengrtahui berbagai aspek pendidikan, baik dari segi pengertian, tujuan, metode, kurikulum, dan sebagainya. Filsafat pendidikan juga berguna untuk me-ngetahui pemikiran para ahli filsafat tentang pendidikan. Secara praktis pemahaman tentang berbagai aspek pendidikan dan pemikiran para ahli filsafat dapat membantu kita untuk memecahkan berbagai problem kong-krit tentang pendidikan dalam ma-syarakat. Dengan metode filsafat juga diharapkan kita dapat berpikir dengan mempertimbangkan berabagai aspek (berpikir holistik) tidak berpikir secara parsial dan pada akhirnya kita dapat lebih bersikap dan bertindak dengan penuh kearifan (wisdom) dalam rang-ka membangun dunia dengan berbagai kebajikan demi mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Salah satu pendekatan dalam filsa-fat pendidikan adalah pendekatan Ontologi/metafisik menekankan pada hakekat keberadaan pendidikan itu sendiri. Keberadaan pendidikan tidak terlepas dari keberadaan manusia. Dalam pendekatan ini keberadaan peserta didik dan pendidik terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri. Pendekatan ini didasari pada tulisan seorang filsuf ahli Metafisik Aristoteles dalam bukunya Metaphy-sics.
Berdasarkan uraian di atas, ma-kalah ini akan membahas mengenai keberadaan manusia dalam filsafat pendidikan. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode komparatif dan analisis. Dengan metode komparatif, dibandingkanlah pemikiran mengenai eksistensi manu-sia menurut para filsuf Barat dan filsuf Islam. Selanjutnya setelah memban-dingkan pemikiran di antara filsafat Barat dan filsafat Islam tentang eksisitensi manusia dilakukan analisis mana saja yang relevan dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui eksis-tensi manusia menurut filsafat Barat dan filsafat Islam dan bagaimana kontribusi mereka terhadap dunia pendidikan.
Eksistensi Manusia Menurut Filsa-fat Yunani dan Abad Pertengahan
A. Filsuf Yunani
Socrates kemungkinan lahir pada 469 dan meninggal 399 SM karena dihukum mati dengan minum racun. Dialah yang pertama kali memper-kenalkan metode dialog dan induksi. Ia juga berpendapat bahwa tujuan tertinggi kehidupan mansuia adalah mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Menurutnya, jiwa adalah inti kepri-badian manusia. Kebahagiaan dapat dicapai dengan melakukan keutamaan (arête), yaitu hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang utama.
Plato dilahirkan di Athena, di tengah kekacauan perang Peloponesos tahun 427 S.M., dan meninggal di sana tahun 347 S.M. Filsafat manusia Plato bersifat dualistis. Jiwa itu paling utama, "dipenjarakan" dalam tubuh. Uraian-uraian Plato harus dimengerti sebagai usaha berbentuk sastra untuk mengungkapkan suatu intuisi tentang hakikat manusia. Tetapi juga dalam usaha-usaha lainnya Plato tidak seluruhnya luput dari dualisme, umpa-manya dalam perumpamaan tentang penunggang kuda dan kudanya, atau tentang manusia bersayap yang kehilangan sayap-sayapnya. Jasa Plato terletak dalam upayanya menyatu-padukan pertentangan-pertentangan para filsuf pra-Sokrates. Namun ia belum selesai menyajikan suatu gambaran tentang pengetahuan ma-nusia dan tentang manusia itu sendiri sebagai suatu gejala yang tunggal dan esa. Etika Plato, yang didasarkan pada etika Sokrates, amat menekankan unsur pengetahuan. Bila orang sudah cukup tahu, pasti ia akan hidup menurut pengetahuannya itu. Oleh karena itu, dalam rangka dialog-dialognya Sokrates seringkali cukup bagus menyadarkan orang akan ada-nya suara batin. Pendapat Plato seterusnya tentang etika bersendi pada ajarannya tentang idea.
Aristoteles lahir tahun 384 S.M. di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara. Delapan belas tahun kemudian ia masuk Akademia di Athena dan sampai 347 S.M. menjadi murid Plato. Filsafat Manusia. Titik pangkalnya filsafat manusia Aristoteles adalah manusia sebagai subjek pengetahuan. Aristoteles menentang dualisme Plato tentang manusia. Sebenarnya bukan hanya pandangan Plato mengenai manusia yang ditentangnya, ia me-ngembangkan juga apa yang dina-makan "hylemorfisme". Artinya, ia beranggapan bahwa apa saja yang kita jumpai di bumi kita ini secara terpadu merupakan pengejawantahan material ("hyle") sana-sini dari bentuk-bentuk ("morphe") yang sama. Umpamanya, pohon cemara, sapi, manusia. Dengan demikian pertentangan-pertentangan "klasik" dari masa pra-Sokrates dipecahkan Aristoteles dengan mem-bedakan maupun menegaskan kesatuan unsur materi dan bentuk dalam setiap makhluk (sekaligus "materialized form" dan "formed matter"). Dengan demikian ia ber-usaha menerangkan banyaknya individu yang berbeda-beda, dalam satu "jenis" ("spesies"). "Bentuk" ("morphe", "form") dianggapnya sebagai yang memberi "aktualitas" pada individu yang bersangkutan. Sedangkan "materi" ("Hyle", "matter") seakan-akan menyediakan "kemung-kinan" (Yunani: "dynamis", Latin: "potentia") untuk pengejawantahan bentuk dalam setiap individu dengan cara yang berbeda-beda. Bentuk dalam hal makhluk hidup diberi nama "jiwa" (Yunani: "psyche", Latin: "anima", yang berlaku sama saja untuk tetum-buhan, hewan dan manusia. Hanya jiwa manusia yang mempunyai ke-dudukan istimewa, karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup "mengamati" dunia di sekitar secara inderawi, tetapi sanggup juga "mengerti" dunia maupun diri-nya. Di samping itu adalah karena jiwa manusia dilengkapi "nous" (Latin: "ratio" atau "intellectus") yang menerima, dan malahan mengucapkan "logos" (sabda, pengertian) yang pada gilirannya menjelma dalam sabda-sabda "jasmani" yang diberi nama bahasa.
B. Filsafat Barat Abad Perte-ngahan
Augustinus. Markus Aurelius Augustinus (354-430) lahir dan hidup dalam kondisi jaman yang sudah berkembang, di wilayah sekitar Laut Tengah sampai sebelah timur Teluk Persia. Filsafat manusia muncul dalam karya Augustinus saat ia me-mandang manusia sebagai ciptaan Allah. Dalam hal ini, ia menentang ajaran Neo-Platonisme yang tidak memakai istilah penciptaan ("crea-tio"), tidak membicarakan Allah sebagai Pencipta ("Creator"), dan yang tidak sanggup membedakan ciptaan dengan penciptanya (monisme yang bercorak panteisme). Menurut Augustinus, segala makhluk merupa-kan "vestigia Dei" ("jejak-jejak Allah") yang memaklumkan bahwa "Allah telah lewat". Manusia menjadi "vestigium Dei" sedemikian istimewa, sehingga disebut "imago Dei" ("citra Allah"). Manusia memantulkan siapa Allah itu dengan lebih jelas daripada segala ciptaan lainnya.
Thomas Aquinas. Thomas dilahir-kan di Rocca Sicca di Italia pada 1225. Thomas sangat menekankan bahwa manusia adalah suatu kesatuan yang terdiri dari jiwa dan badan. Plato menganggap jiwa sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sebuah substansi lengkap yang ada di dalam penjara tubuh jasmani manusia. Melawan anggapan Plato ini, Thomas meng-ajarkan bahwa pertautan antara jiwa dan tubuh manusia harus dilihat antara bentuk (jiwa) dan materi (tubuh). atau, hubungan jiwa dan badan tersebut juga bisa dilihat dalam hubungan antara aktus (perealisasian) dan potensi (bakat). Jadi, manusia itu satu substansi saja. Satu substansi sedemikian rupa sehingga jiwalah yang menjadi bentuk badan (anima foma corporis). Dengan perkataan lain, jiwalah yang membuat tubuh menjadi realitas.
Jiwa menjalankan aktivitas-akti-vitas yang melebihi sifat badani be-laka. Aktivitas itu adalah berpikir dan berkehendak. Keduanya itu meru-pakan aktivitas rohani. Ini sesuai dengan prinsip agere sequitur esse yang artinya cara bertindak itu sesuai dengan cara beradanya. Karena jiwa bersifat rohani, maka setelah manusia mati, jiwanya hidup terus. Dalam kesimpulan ini Thomas memper-tahankan adanya kekekalan jiwa (melawan pendapat Aristoteles).
Thomas mengajarkan bahwa setelah kematian jiwa akan hidup terus dalam wujudnya sebagai bentuk. Ini berarti bahwa jiwa tetap mempunyai keterarahan kepada badan (materi). Dan, hal ini rupanya cocok dengan ajaran kristiani mengenoi adanya kebangkitan badan. Ajaran ini jelas akan sulit dibenarkan oleh seorang filsuf yang mencari kebenaran atas dasar rasio belaka.
Menurut Thomas, setiap perbuatan - termasuk juga kegiatan berpikir dan berkehendak - adalah perbuatan dari segenap pribadi manusia. Setiap perbuatan manusia adalah perbuatan "aku", yaitu jiwa berubuh atau tubuh berjiwa. Kesatuan manusia ini me-ngandaikan bahwa tubuh manusia hanya dijiwai oleh satu bentuk saja, yaitu bentuk rohani. Bentuk rohani inilah yang sekaligus membentuk hidup lahiriah dan batiniah manusia. Jiwa yang satu ini memiliki lima daya, yaitu: daya vegetatif, merupakan daya yang bergubungan dengan pergantian zat dan pembiakan; daya sensitif, merupakan daya yang behubungan dengan keinginan; daya yang meng-gerakkan; daya untuk memikir; dan daya untuk mengenal. Untuk dapat memikir dan mengenal, dalam diri manusia tersedia akal dan kehendak. Menurut Thomas, akal adalah daya tertinggi dan termulia dari manusia. Akal lebih penting daripada kehendak karena yang benar (kebenaran) itu lebih tinggi daripada yang baik (kebaikan). Oleh karena itu juga, mengenal adalah perbuatan yang lebih sempurna daripada menghendaki.
Pandangan Thomas mengenai pengenalan ini berhubungan erat sekali dengan pandangannya tentang pertautan antara jiwa dan tubuh. Pada dirinya sendiri jiwa bersifat pasif, baik dalam pengenalan iderawi maupun dalam pengenalan akali. Pelaku atau subjek dalam pengenalan adalah kesatuan jiwa dan tubuh yang berdiri sendiri. Proses pengetahuan berlang-sung dalam tingkat sebagai berikut: Yang pertama adalah pengetahuan pada tingkat inderawi. Pengetahuan pada tingkat ini bertitik pangkal pada pengalaman inderawi, lewat benda-benda yang ada di luar. Penginderaan dengan daya-daya indera ini akan menghasilkan gambaran-gambaran yang diberikan kepada akal. Yang kedua adalah pengetahuan pada tingkat akali. Menurut Thomas, akal pada dirinya sendiri hanyalah seperti sehelai kertas yang belum ditulisi. Akal tidak mempunyai idea-idea sebagai bawaannya. Sasaran penge-nalan akal diterima dari luar melalui gambaran-gambaran iderawi. Hakikat itu kemudian diubah menjadi suatu bentuk yang dapat dikenal. Penge-tahuan terjadi jika akal berhasil memungut bentuk itu dan berhasil mengungkapkannya. Jadi, pengeta-huan akali ini tergantung kepada benda-benda yang diamati oleh indera.
Kita harus melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Namun, darimana kita mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat. Menurut Thomas, kita mengetahuinya dari Hukum Kodrat, yang dapat kita ketahui melalui akal budi kita. Dari Hukum Kodrat kita mengetahui perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Hukum Kodrat mengacu kepada kodrat. Kodrat adalah realitas, atau struktur realitas, kahikat realitas yang ada. Apa pun yang ada memiliki kodratnya; kodratnya itu memuat semua ciri yang khas bagi masing-masing pengada. Dalam bahasa kita, segenap makhluk ada struktur-strukturnyal kegiatan dan perkem-bangannya mengikuti struktur-struktur itu. Pengembangan kodrat merupakan tujuan masing-masing makhluk.
Hukum Kodrat sebenarnya dapat dipahami dengan mudah. Gagasan dasarnya berbunyi: Hiduplah sesuai dengan kodratmu! Nah, Hukum Kodrat itu muncul dalam dua bentuk. Yang pertama, hukum alam. Bagi semua makluk bukan manusia di dunia ini hujkum kodrat itu sama dengan hukum alam. Artinya, mereka itu lahir, tumbuh, berkembang, dan mati menurut hukum alam masing-masing. Hukum alam itu memuat hukum alam fisika dan kimia, hukum perkem-bangan organik dan vegetatif, serta struktur-struktur kesadaran seperti in-sting pada binatang. Pada manusia pun lapisan-lapisan fisiko-kimia, vegetatif, dan instingtual berkembang menurut hukum alam. Makhluk dengan sen-dirinya mengikuti hukum alam, dan ia tidak dapat menyeleweng darinya.
Namun, manusia adalah makhluk rohani dan karena itu ia bebas. Artinya, ia dapat menentukan sendiri apa yang dilakukan. Dalam bertindak manusia tidak ditentukan oleh Hukum Kodrat. Karena itu bagi manusia kodrat merupakan hukum dalam arti sesungguhnya, yaitu sebuah norma yang diharuskan yang dapat diketahui, dan di situ manusia harus menentukan sendiri apakah mau taat atau tidak padanya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat menyeleweng dari kodratnya, yang dapat bertindak tidak sesuai dengan kodratnya, me-lawan kodratnya. Bagi manusia Hukum Kodrat sama dengan hukum moral. Hukum Kodrat adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai prinsip-prinsip dan norma-norma moral. Jadi, bagi manusia Hukum Kodrat betul-betul berupa hukum dalam arti normatif.
Menurut Thomas, manusia hidup dengan baik apabila ia hidup sesuai dengan kodratnya, buruk apabila tidak sesuai. Mengapa demikian? Karena manusia hanya dapat mengembangkan diri, hanya dapat mencapai tujuannya apabila ia hidup seusai dengan kodratnya. Orang yang hidup berlawanan dengan kodratnya tidak akan mencapai tujuannya, tidak akan mengembangkan dan mengaktuali-sasikan seluruh potensinya. Karena itu, moralitas terdiri dalam tindakan yang mengembangkan dan menyem-purnakan kodratnya.
Apa artinya hidup seusai dengan kodrat? Gagasan dasarnya, yang diambil dari Aristoteles, adalah bahwa manusia memiliki kecenderungan vegetatif, sesnsitif (perasaan, emosi, kesadaran, instingtual), dan rohani. Yang khas bagi manusia adalah kerohaniannya. Manusia bertindak sesuai dengan kodratnya, apabila ia menyempurnakan diri sesuai dengan kekhasannya, jadi dengan kerohani-annya. Ia harus mengembangkan diri sebagai makhluk rohani, sedang-kan penyempurnaan kekuatan-keku-atan emosional dan vegetatif harus dijalankan sedemikian rupa sehingga menunjang penyempurnaannya seba-gai makhluk rohani.
C. Filsafat Barat Modern
Rene Descartes. Ajaran Descartes tentang manusia sesuai dengan pan-dangannya yang dualistis mengenai keterpisahan antara substani rohani dan substansi bendawi.
... substansi bendawi. Manusia terdiri dari kedua substansi ini. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keleluasaan. Sebenarnya tubuh tidak lain daripada suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa.
Descartes, dengan memisahkan secara radikal jiwa dan tubuh, menganut dualisme tentang manusia. Ia mendapat banyak kesulitan ketika harus mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara jiwa dan tubuh berlangsung dalam glandula pinealis (sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Tetapi akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes.
Karl Marx. Karl Marx lahir pada tahun 1818 dikota Trier diperbatasan Barat Jerman yang waktu itu termasuk Prussia. Konsep Marx tentang manusia diuraikan dengan sangat baik oleh Erich From dalam Marx’s Concept of Man. Potensi manusia, bagi Marx, adalah potensi yang diterima begitu saja; manusia seka-rang; sebagaimana manusia zaman dahuku adalah materi mentah yang manusiawi dan tidak dapat diubah, karena struktur otaknya tetap sama sejak awal ditorehknnya sejarah.
Manusia benar-benar berubah sepanjang sejarah; dia mengembagkan dirinya, dia mentransformasikan diri-nya, dia adalah produk sejarah. Sjarah adalah sejarah perwujudan diri manusia melalui proses bekerja dan produksi. Keseluruhan dari apa yang disebut dengan sejarah dunia tidak lain kecuali penciptaan manusia oleh tenaga buruh, dan terciptanya alam untuk manusia; oleh karenanya, manusia memiliki bukti yang tidk dapat disangkal atas penciptaan dirinya, atas asal-usulnya sendiri. Manusia, bagi Marz, akan hidup hanya jika dia produktif, menguasai dunia di luar dirinya dengan tindakan untuk mengekpersikan kekuasaan manusia-winya yang khusus, dan menguasai dunia dengan kekuasaannya. Manusia yang tidak produktif adalah mansuia yang resptif dan pasif; dia tidak ada dan mati. Manusia hendaknya merde-ka, seorang manusia tidak meng-anggap dirinya merdeka jika dia tidak menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Ia harus bebas dari (free from), dan yang lebih penting bebas untuk (free to). Karena itu, manusia harus membe-baskan dirinya dari keterasingan (alie-nasi). Alienasi yang disebabkan oleh kapitalisme, oleh tindakan kaum bor-juis yang memperkosa hak-hak kaum proletar. Manusia yang teralienasi ini bukan hanya teralienasi dari sesamanya, tetapi juga dari esensi kemanusiaan, dari ekadaaannya seba--gai spesiesnya. Karena itu, untuk melenyapkan alienasi manusia harus membeaskan apapun yang membe-lenggu dirinya. Struktur eksonomi kapitalsime yang mengakibatkan alie-nasi harus dihancurkan dan diganti dengan masyarakat tanpa kelas (komunisme) melalui revolusi prole-tariat (penjelasan yang panjang ten-tang konsep manusia menurut Marx lihat Fromm, Marx’s Concept of Man).
Sigmund Freud. Menurut Freud, jiwa manusia terdiri dari tiga bagian: Id, Ego, dan superego. Id berada dalam ketidaksadaran. Ia merupakan dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan. Doro-ngan ini ada dua yaitu dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (life instinct) dan dorrongan untuk mati (death instinct). Bentuk dorongan hidup adalah dorongan seksual atau Libido. Tujuan hidup manusia pada dasarnya untuk memenuhi kepuasan libido seksualnya (libido sexuality). Bentuk dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin menyerang oran lain, berkelahi, berperang atau marah. Prinsip yang dianut Id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle), yang bertujuan memuaskan semua doro-ngan primitif. Ego adalah system di mana Id dan Superego beradu kekuatan. Fungsi Ego adalah menjaga keseimbangan antara Id dan superego. Ego menjalankan prinsp kenyataan (reality principle), yaitu menyesuai-kan kedua dorngan tadi. Superego merupakan dorongan untuk berbuat kebaikan, dorongan ini beruysaha me-nekan Id. Bila Ego dikuasai Id, orang akan menjadi psikopat (amoral), dan bila superego dominant, orang akan menjadi psikoneurose (tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya).
Soren Abaye Kierkegaard (1813-1855). Ia dilahirkan di Kopen-hagen dan belajar teologi di Universitas Kopenhagen. Menurutnya, ada tiga fase eksistensi manusia, yaitu estetis (esthetis stage), etis (ethical stage) dan religius (religious stage). Tahap estetis adalah tahap di mana manusia hidup mencari kesenangan jasmani, menagabikan moralitas, dan agama. Hidup semata-mata untuk memuaskan nafsu. Kierkegaard men-contohkan manusia tahap ini seorang super play boy bernama Don Yuan. Tahap etis, yaitu tahap di mana manusia memperhatikan kebutuhan rohani dan moralitas. Tahap religius dimana manusia hidup demi pemuasan kebutuhan rohaninya, menjalin hubu-ngan dengan Tuhan. Persoalan utama manusia adalah kesulitan untuk me-mutuskan di antara berbagai pilihan. Dosa dapat menimbulkan keputus-asaan, dan jalan terbaik adalah manu-sia bergerak menuju Allah.
Friederich Nietzche, dilahirkan di Rocken, Prusia dari keluarga pendeta. Seorang filsuf nihilis. Menurutnya, ke-hendak sebagai asas dari eksistensi manusia. Manusia memiliki kehendak berkuasa (will for power) sebab kehi-dupan merupakan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan dan per-juangan merupakan hal yang baik. Pi-kiran merupakan alat untuk mengen-dalikan insting (kehendak berkuasa). Pengetahuan memiliki nilai lebih bila dapat meningkatkan dan memper-tahankan kehidupan. Manusia harus mengarahkan kekuatannya untuk men-jadi manusia unggul (ubermensch, superman). Manusia unggul hendak-nya meruntuhkan moralitas budak yang penuh kekejaman dan mengan-tinya dengan moralitas tuan yang penuh cinta kasih serta nilai-nilai moral yang luhur. Menurutnya, Tuhan sudah mati (Got is tod). Dan kalau belum mati kita harus membunuhnya. Hanya manusia unggullah yang masih hidup. Manusia masih berarti karena adanya manusia unggul.
Jean Paul Sartre. Sartre dilahir-kan di Paris tanggal 21 Juni 1905. Keluargnya tergolong kelas mene-ngah, ayahnya Katolik, dan ibunya Protestan. Ia belajar filsafat dan menjadi guru besar pada lyceum di Le havre. Berkenalan dengan Husserl dan darinya menegnal metode fenome-nologi. Karyanya, L’Ange du Mor-bide, L ‘Imagination, dan L’Etre et le Neant.
Menurut Sartre, manusia itu mengada dengan kesadaran sebaagi dirinya sendiri sehingga hal demikian itu tidak bisa dipertukarkan. Keber-adaan manusia berbeda dengan keber-adaan benda-benda lain yang tidak memiliki kesadaran atas keberada-annya sendiri. Bagi manusia, eksis-tensi adalah keterbukaan; berbeda dengan benda-benda lain yang keber-adaannya sekaligus berarti esensinya. Adapun bagi manusia, eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak lain ialah bagaimana menjadikan dirinya sendiri. Begitulah asa pertama eksis-tensialisme. Manusia tidak lain adalah rencananya sendiri; ia mengada hanya sejauh ia memenuhi dirinya sendiri; oleh karenanya, ia tiada lain adalah kumpulan tindakannya, tidak lain ialah hidupnya sendiri. Kata Sartre.
Manusia bertanggung jawab ter-hadap dirinya sendiri. Dalam mem-bentuk dirinya manusia hendaknya memilih berbagai alternative dan pilihannya itu harus dipertang-gungjawabkannya sendiri, tidk bisa mempersalahkan orang lain, tidak bisa menggantungkan keadaannya kepada Tuhan. Karena itu, manusia sesung-guhnya memiliki kebebasan mutlak. “Human reality is free, basically and completely free” (Realitasmanusia adalah bebas, secara asasi dan sepe-nuhnya bebas. Konsekuensi dari kebe-basan itu adalah tanggungjawab yang tanpa batas. Tanggung jawab kepada dirinya sendiri (Lihat Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, hlm. 131)
Eksistensi Manusia Menurut Filsa-fat Islam
Al-Kindi (185 H/801 M-260/873 M)
Al-Kindi adalah filosof Muslim pertama. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail bin Qais al-Kindi. Kindah adalah salah satu suku Arab besar pra-Islam. Ia dila-hirkan di Kufah dan di sana ia mempelajari berbagai macam penge-tahuan terutama sastra dan filsafat. Ia juga menguasai bahasa Yunani dan menerjemahkan karya-karya Yunani seperti Enneads karya Plotinus. Al-Qifti menyebutnya sebagai filsof Arab, sedangkan Ibn Nabatah menye-butnya sebagi filsuf Muslim.
Karya-karyanya antara lain: Fi al-Qaul fi al-Nafs (Pendapat tentang Jiwa), Kalam fi al-Nafs (Pembahasan tentang Jiwa), Mahiyah al-Naum wa al-Ru’ya (Substansi Tidur dan Mimpi); Fi al-Aql (Tentang Akal);, dan al-Hilah li Daf’i al-Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan). Ide-idenya ba-nyak dipengaruhi ole ide-ide Aristoteles, Plato, dan Plotinus.
Menurut al-Kindi, jiwa manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu jiwa syahwat, jiwa emosional, dan jiwa rasional. Jiwa-jiwa itu akan tetap kekal meski badan telah hancur. Jiwa tumbuhan berfungsi untuk makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa hewani berfungsi sebagai pengin-deraan, imajinasi, dan gerak disam-ping makan, tumbuh dan berkembang biak. Jiwa rasional berfungsi untuk berpikir. Jiwa itulah yang dimiliki mansuia. Karenanya manusia disebut makhluk berpikir (al-hayawan al-nathiq). Adapun jiwa rasional atau akal dibagi menjadi akal yang selalu aktif . Akal ini merupakan Akal Pertama, yaitu Allah SWT. Akal potensial , yaitu kesiapan yang ada pada mansuia untuk memahami hal-hal yang rasional. Akal yang berubah di dalam jiwa, dari potensi menjadi actual. Akal ini disebut sebagai akal kepemilikan (al-‘aql bi al-malakah) dan akal mustafaz yang berarti bahwa awalnya ia tidak menjadi milik jiwa kemudian menjadi miliknya. Akal lahir, yaitu jika akal serius memahami hal-hal yang rasional atau mengu-bahnya menjadi yang lain, maka pada saat itu ia disebut akal lahir. Manusia terkadang mengalami kesedihan. Menurut al-Kindi dalam bukunya Kiat Melawan Kesedihan, kesedihan merupakan gangguan psikis (neurosis) yang terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan yang diinginkan. Obat untuk menghilangkan kesedihan adalah berpikir rasional dan mela-kukan kebiasaan yang terpuji seperti sabar dan menjauhi hal-hal yang sepele, kemudian disiplin atas kebiasaan terpuji. Bila kesedihan akibat perbuatan sendiri, maka caranya adalah menjauhkan perbautan tersebut. Adapun bila kedihan akibat perbuatan orang lain, maka kita tidak boleh bersedih bila sesuatu itu belum terjadi, bila terjadi berusahalah agar kesdihan tidak berlarut-larut. Kita juga hendaknya mengetahui sebab-sebab kesedihan, cerdas dan bijak dalam mengatasinya. Kebahagiaan sejati manusia bukanlah yang bersifat duniawi, inderawi, dan artificial, tetapi kenikmatan yang bersifat ilahiah dan rohaniah. Karena itu kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan merasa dekat dengan Allah SWT.
Al-Farabi (259-339 H/872-950 M)
Namanya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tharkhan bin Uzalag. Ia adalah Maha Guru Kedua (The Second Master) setelah Guru Petama Aristoteles. Ia merupakan ahli filsafat ternama yang mengarang buku Ara Ahl Madinah al-Fadhilah (Masdyarakat Utama), tahshil al-sa’adah, Risalah fi al-Aql, Fushus al-Hikam, al-Siyasah al-Madaniyah, dan al-Da’wai al-Qalbiyah. Menurutnya, mansia terdiri dari badan dan jiwa. Manusia dikatakan menjadi sempurna bila menjadi makhluk yang bertindak. Anggota tubuh manusia merupakan perantara untuk menjalankan kehen-dak jiwa. Ia juga membagi tiga jenis jiwa, yaitu iwa tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketiga filosuf Muslim di atas merupakan filsuf aliran masysya’i (perpatetik), yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, kemudian mencapai puncaknya pada Syekh al-Rais Ibn Sina. Pemikiran ntentang jiwa manusia dan intelek merupakan kelanjutan dari ketiga filsuf di atas.
Ibn Sina
Dalam kaitan dengan eksistensi manusia, Ibnu Sina memberikan perhatian yang khusus terhadap eksistensi jiwa manusia. Kontribusi Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan baik pada pemikiran dunia Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert The Great, Thomas Aquinos, Roger Bacon,dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya.
Lapangan kejiwaan dari Ibnu Sina lebih banyak menarik perhatian pembahasan modern dari segi-segi filsafatnya, antara lain berupa penerbitan buku-buku karangannya serta kupasan-kupasan serta tinjauan terhadap pandangan-pandangan Ibnu Sina tentang kejiwaan. Di antara mereka adalah: S. Landauer yang menerbitkan karangan Ibnu Sina, berjudul Risalah al-Quwa al-Nafsiah (Risalah tentang Kekuatan Jiwa) pada tahun 1875, dengan berdasarkan teks asli Arab dan teks-teks Ibrani serta latin; Carra de Vaux dalam bukunya Avicenna; Dr. Gamil Saliba, dalam bukunya Atude la Metaphysique’d Avicenna (tinjauan tentang segi metafisika dari Ibnu Sina); Dr. Usman Najati dalam bukunya Nadharat al-Idrak al-Hissi’ Inda Ibnu Sina (teori persepsi indera pada Ibnu Sina); dan B. Haneberg, yang mengarang buku Zur Erkenntnislehre von Ibnu Sina und Albertus (tentang teori pengenalan pada Ibnu Sina dan Albert The Great).
Teori Ibnu Sina tentang kesatuan antara jiwa dan raga sangat relevan dengan pendidikan rohani, yaitu dalam pendidikan perlu ditekankan upaya pendidikan yang komprehensif dan holistik, yakni pendidikan yang menyeluruh dan utuh meliputi seluruh potensi hubungan jiwa dan raga sebagaimana yang telah di uraikan pada tujuan menurut Ibnu Sina pendidikan di atas. Dengan demikiandalam konteks ini, kotribusi Ibnu Sina cukup besar.
Sebagaimana Aristoteles, Ibnu Sina menekankan eratnya hubungan antara jiwa dan raga, seperti di uraikan dalam bab pertama buku psikologi al-Syifa.
Ibnu Sina mengatakan bahwa dalam jiwa manusia itu terletak kekuatan berfikir, memahami, dan membedakan sesuatu. Inilah daya atau kekuatan jiwa yang paling substansial dan esensi. Dalam hal ini Ibnu Sina membedakan antara akal dan jiwa, berbeda dengan Ibnu Maskawaih dalam Tahzibul Akhlak yang tidak membedakan antara jiwa dengan akal. Baginya antara jiwa dan akal itu satu adanya. Karena kekuatan jiwa antara yang positif dan yang negatif saling berlomba maju dan hendak men-jadikan dirinya paling depan, maka jiwa berfikir (nafsu al-nathiqah) yang positif perlu di bina dan di latih terus menerus. Cara melatih jiwa berfikir sebagaimana di terangkan dalam ilmu pendidikan jiwa dan spiritualisme adalah dengan cara membersihkan potensi jiwa ini dari berbagai penyakit kejiwaan dan mengisinya dengan berbagai sifat yang baik sehingga tercapai tingkat jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah).
Selain eksistensi jiwa, Ibn Sina juga memperhatikan eksistensi akal. Dalam buku enam dari al-Syifa yang berjudul Tabi’iyat, Ibnu Sina membagi teorinya tentang akal menjadi dua, yaitu akal teoretikal dan praktikal. Menurutnya, pendidikan pikiran pada hakikatnya adalah pendidikan intelek teoretikal, sementara pendidikan karakter melibatkan intelek-intelek teoretikal, sementara pendidikan karakter melibatkan intelek teoretikal dan praktikal. Sementara intelek praktikal meliputi fakultas-fakultas vegetal dan hewani (al-quwa al-nabatiyyah dan al-quwa al-haya-waniyah), yang mencakup pengha-yatan (wahm), imajinasi (khayal) dan fantasi (fantasiyyah), intelek teoretikal meliputi tingkat-tingkat intelektual material (atau intelegensi) (al-‘Aql al-Hayulani, akal potensial), intelek en habitus (al-‘Aql al-malakah, bakat), intelek dalam tindakan (al-‘aql bi al-fi’li) dan akhirnya intelek sakral atau terperoleh (al-‘aql al-qudsi atau al-‘aql al-mustafad). Proses belajar mengimplikasikan aktulisasi potensi-potensi intelek melalui penuangan cahaya kecerdasan aktif. Tidak lain intelek yang mandiri yang di identifikasikan dengan sustansi mala-kah inilah yang merupakan guru sejati pencari pengetahuan dan iluminasi kecerdasan manusia oleh hierarki intelegensi terletak dijantung seluruh proses mencapai pengetahuan, yang tingkat tertingginya adalah pengeta-huan intuitif (al-ma’rifah al-hadisiyyah), yang dicapai secara langsung dari akal kreatif.
Dengan kemampuan akal mustafad inilah manusia berbeda antara satu sama lain. Ada manusia yang hanya mampu mengatur aktivitas hidup, ada yang lebih ber-ittisal secara langsung dengan akal kreatif, sehingga ia mendapat limpahan ilmu pengetahuan dari akal fa’al tersebut. Akal yang mempunyai kemampuan demikian oleh Ibnu Sina disebut juga dengan al-‘aql al-quds (roh suci) yang meru-pakan taraf tertinggi yang dapat dicapai seseorang sehingga terbukalah baginya ilmu rohani.
Visionary Recitals tulisan Ibnu Sina, dalam mana filsafat Timur (al-hikmah al- msyriqiyyahah) dijelaskan secara rinci dalam gaya yang simbolik, juga dapat di kaji sebagai sumber filsafat tentang pendidikan dalam tingkat yang paling tinggi. Dalam risalah-risalah ini doktrin tentang akal ditampakkan secara konkrit dalam wujud malaikat-malaikat dan pembimbing-pembim-bing surgawi yang membimbing manusia ke tingkat tinggi Pengetahuan Ilahi. Sang pembimbing di dalam Hayy ibn Yaqzhan adalah guru par-excellence dan angelologi avicennan kunci untuk memahami filsafat pendidik sang guru.
Tampaknya teori Ibnu Sina tentang intelek ini sesuai dengan pendapat al-Farabi, Jamaludin al-Afghani dan murid sekaligus pengikutnya Muha-mad Abduh, dan sebagainya.
Teori intelek menurut Ibnu Sina ini bisa di jadikan bahan pemikiran untuk meningkatkan tingkat kecerdasan pada anak didik dengan memberikan ketangkasan akal. Menurut Bobbi De Porter dalam Quantum Learning sesungguhnya sejak lahir potensi akal manusia sama hanya saja berbeda dalam mengoptimalkannya.
Jalaluddin Rumi
Rumi lahir di Balk, Afghanistan pada tahun 604 H/1207 M. Ia lebih dikenal sebagai mistikus Islam (sufi). Karyanya-karyanya dalam bentuk syair-syair di antaranya Matsani dan Divani yang karena kindahan sastra dan kedalaman isinya dipandang sebagai Al-Qur’annya orang Persia.
Menurut Runi, tujuan utama penciptaan terpenuhi melalui diri para nabi dan orang-orang suci. Mereka dapat mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia. Para nabi dan Adam adalah prototype kesempurnaan manusia. Rumi menunjuk pada Adam, dan meng-gunakan istilah adami, yang berarti “manusia” dan kesempurnaan kondisi rohaniahnya. Rumi menggambarkan tiga corak makhluk: malaikat, manusia, dan binatang; dan tiga corak manusia: manusia malaikat, mansuia biasa, dan manusia binatang. Corak yang pertama adalah para nabi dan orang-orang suci, yang kedua manusia kebanyakan, atau orang awam, dan ketiga orang-orang kafir atau para pengikut syetan (Wiliam Chittick, Sufi Path of Love, hlm . 96).
Dalam pembagian dan tingkat-tingkat akal ini, sebagaimana dibahas kembali oleh William C. Chittick dalam Sufi Path of Love: Spiritual Teaching of Rumi, Rumi membagi akal menjadi dua tingkat, yaitu akal parsial (‘aql al-juz’i) dan “Akal Universal” (‘aql al-kulli) atau “akal dari akal”; akal yang dapat melihat dan memahami makna dari setiap bentuk, melihat hakikat segala sesuatu. Meskipun “Akal Universal” pada esensinya satu, tetapi setiap nabi dan orang-orang suci memiliki dera-jatnya masing-masing. Sebagain besar manusia tidak sampai pada akal ini, karena akal mereka terselimuti oleh kegelapan nafs. Akal ini disebut “akal parsial” (‘aql al-juz’i), yang terbagi ke dalam beberapa tingkatan.
Akal parsial memerlukan “makan-an” dari luar, melalui belajar, meng-kaji “ilm-i abdan”. Sedangkan Akal Universal mampu mencukupi dirinya sendiri, tidak memerlukan “makanan” dari luar. Itulah sumber dari “ilm-i adyan”. Rumi berkata: “Akal terdiri dari dua macam: Yang pertama dicari. Engkau mempelajarinya seperti anak madrasah, dari buku-buku, melalui guru-guru, refleksi dan hafalan, dari konsep-konsep dan ilmu-ilmu baru. Akal kalian menjadi luas dari yang lain, tapi kalian terbebani oleh apa yang telah kalian miliki… Akal yang kedua adalah pemerian Tuhan. Ia bersemayam di dalam roh.”
Rumi mengatakan bahwa Akal Universal tidak memerlukan peran-tara. “Yang dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru adalah Akal Universal. Akal parsial mem-butuhkan guru dan Akal Universal adalah guru, ia tidak memerlukan sesuatu.
“Seorang filosof diperbudak oleh konsep-konsep intelektual; orang suci bertengger di atas Akal dari akal. Akal dari akal adalah inti, akal kalian adalah kulit. Perut binatang mencari kulit selalu. Si pencari inti memiliki seratus kebencian pada kulit; di mata orang suci, intilah yang dicari. Karena kulit akal memebrikan seratus bukti, bagaimana Akal Universal tidak akan melangkah tanpa kepastian?”
Rumi juga percaya akan hubungan antara roh, akal, dan nafs. Roh memiliki wilayah yang paling luas, mencakup keseluruhan realitas dalam (bathin) manusia; “akal” berada di ba-wah kekuatan pemahaman roh; dan “hati” menggaris bawahi kesadaran (yang bersumber dari roh), khususnya kesadaran Tuhan.
Menurut Nabi, “yang pertama-tama diciptakan Tuhan adalah Akal” dan “Yang pertama-tama diciptakan Tuhan adalah cahayaku”. Nur Muhammad identik dengan Akal Universal; hakikat rohaniah para nabi dan orang-orang suci, atau setiap manusia yang telah sampai pada tingkat kesempurnaan rohani. Akal Universal mengetahui segala sesuatu, karena ia memperoleh pantulan lang-sung dari ilmu Tuhan. Dengan kata lain, ia adalah pengejawantahan awal Perbendaharaan Tersembunyi. Itulah sebabnya Rumi dan para sufi lainnya mengatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan pantulan dari hakikat manusia.” Demikian pemi-kiran mistik Rumi tentang akal.
Nampaknya, pemikiran Rumi tentang akal ada kesamaan dengan pemikiran Ibn Sina. Ibn Sina menga-takan bahwa akal kenabian sudah mencapai akal mustafad karena ia telah mencapai tingkat Akal Universal. Nabi dapat berhubungan langsung dengan Tuhan, tanpa melalui perantara. Dalam hal kekuatan akal, imajinasi dan rohaninya, nabi berada di atas manusia pada umumnya. Dari sini, dapat kita lihat, bahwa teori keduanya kental dengan nuansa mistik, karena, menurut Ibn Sina dan Rumi, untuk dapat mencapai akal mustafaz atau Akal Universal, seorang nabi di samping harus memiliki kekuatan intelek tertinggi, ia juga memiliki kekuatan rohani yang luar biasa. Kekuatan rohani ini diperoleh dari upaya pensucian rohani melalui berbagai aktivitas kerohanian sebagai-mana yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang suci.
Mulla Sadra
Mulla Sadra adalah seorang ahli filsafat Persia yang ternama. Ia mensintesiskan filsafat, tasawuf, ka-lam, dan sains syar’iy. Ia pendiri mazhab Muta’alihin (Transcendent Theosophy). Karyanya yang terkenal adalah al-Asfar al-‘Arba’ah (Empat Perjalanan). Tujuan pendidikan adalah penyempurnaan jiwa (istikmal al-nafs) untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan (ma’rifatullah). Penge-tahuan tentang Tuhan tidak mungkin dicapai kecuali dengan iman. Pe-nguatan iman tidak akan tercapai kecuali dengan pendidikan moral. Melaui proses pendidikan manusia memperoleh kesempurnaan nafs (jiwa)-nya. Mulla Sadra mem-perkenalkan teori bahwa semua dzat yang ada di muka bumi ini mengalami perubahan. Teorinya disebut harakat al-wujud (gradation of being). Teori itu menyatakan bahwa manusia me-ngalami perubahan wujud dari kondisi mineral menjadi tumbuhan, dari tumbuhan menjadi binatang, dari binatang menjadi manusia biasa, dari manusia biasa menuju tahap malaikat, dari tahap malaikat menuju tahap Tuhan. Pencapaian tahap sampai ke tahap tertinggi dicapai melalui proses pendidikan.
Kesimpulan
Pentingnya memahami eksistensi manusia dalam filsafat pendidikan karena pendidikan tidak bisa dile-paskan dari manusia. Pendidikan itu sendiri merupakan kebutuhan ma-nusia. Satu-satunya makhluk yang bisa mendidik dan dididik adalah manusia. Karena itu manusia dikenal sebagai homo educandum. Pemahaman ten-tang eksistensi manusia juga penting karena guru dan murid sebagai manusia merupakan dua di antara beberapa unsur dalam pendidikan. Filsafat Barat menekankan eksistensi manusia pada sebagian dimensi saja. Misalnya, Plato hanya menekankan pada jiwa, roh atau idenya dan kurang mementingkan dimensi fisik. Karena itu pemikiran Plato dinamakan idelalisme. Dan tujuan pendidikan yang lebih mementingkan dimensi jiwa atau roh termasuk dalam aliran ini. Sedangkan Aristoteles mene-kankan bahwa eksistensi manusia ter-letak pada fisiknya. Alirannya bersifat realism atau materialism. Tujuan pendidikan yang lebih mementingkan dimensi fisik atau materi dinamakan materialism. Aliran pendidikan ini sangat dominan dalam dunia pen-didikan Barat.
Pada abad pertengahan para filsuf gereja berupaya untuk men-jelaskan eksistensi manusia dengan mengkombinasilan ajaran Kristen dan filsafat. Santo Augustinus misalnya menyatakan bahwa manusia meru-pakan bayangan Tuhan (Imago Dei). Maka dalam pendidikan sebagai Imago Dei manusia hendaknya mentaati ajaran Tuhan dan menjauhi dosa. Suatu Negara atau kota yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang mendapatkan pendidikan yang baik, taat terhadap ajaran Kritus dan menjauhi dosa merupakan penghuni Kota/Negara Tuhan (the City of God). Dan tujuan pendidikan adalah mewujudkan warga Negara Tuhan itu.
Pada masa modern, filsafat dido-minasi oleh beberapa aliran besar, yaitu rasionalisme yang menekankan pada akal dengan Rene Descartes sebagai panglimanya. Menurut aliran ini, pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia-manusia yang rasional, yakni manusia yang men-jadikan akal (rasio) sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Selain rasionalisme ada empirisme dengan tokohnya David Hume dan John Locke. Menurut aliran ini pendidikan adalah upaya memberikan pengalaman kepada manusia. Dan pengalaman inderawi merupakan satu-satunya ukuran kebenaran. Dalam dunia pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh John Lock dalam teorinya Tabula Rasa, bahwa pengalamanlah meru-pakan faktor yang paling berpengaruh terhadap manusia. Manusia ibarat kertas putih yang siap ditulisi tinta dengan warna yang sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya.
Aliran lain yang dominan adalah aliran materialism dan pragmatism. Menurut materialism, pendidikan harus ditujukan untuk membentuk manusia yang berbahagia secara materil karena satu-satunya yang eksisten (yang ada) ada yang bersifat materil atau fisik. Adapun menurut pragmatisme, pendidikan yang baik adalah yang dapat memberikan kegunaan atau keuntungan praktis bagi manusia. Dengan penekanan pada salah satu unsure atau dimensi manusia itulah maka filsafat pendidikan menurut filsafat Barat bersifat parsial. Walaupun dalam perkembangan dewasa ini, mereka juga sedang mengarah kepada inte-gralisme dan holism, yakni pendidikan yang menekankan kepada aspek-aspek kehidupan manusia secara utuh. Hal ini bisa dilihat, misalnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pengajarannya di lembaga-lembaga pendidikan Barat. Misalnya, terjadi proses perkawinan atau integrasi antara sains dan agama.
Ada kesadaran di Barat bahwa pendidikan modern yang pragmatis telah menyebabkan manusia ter-jerumus ke dalam krisis kemanusiaan. Orientasi pendidikan yang pincang itu erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan di Barat yang mengarah pada sekulerisme sehingga memarginalkan agama dari kehidupan manusia. Sejak Abad Kebangkitan (Renaissance) Eropa, ilmu pengeta-huan sangat didominasi oleh para-digma Cartesian-Newtonian yang mekanistik, deterministik, linear, ma-terialistik, dan memarginalkan agama serta dimensi etika dalam eksistensi kehidupan manusia. Karenanya, ada banyak kritik terhadap sains sekuler yang mengalami revolusi luar biasa di Barat, tapi semakin menghempaskan manusia modern semakin jauh dari penemuan makna hidup. Karena itu, kondisi tersebut menyadarkan ma-nusia-manusia Barat akan pentingnya pendidikan yang integral dan holistik.
Pemikiran para ahli falsafah Islam rata-rata bersifat eklektik, integral dan holistik. Mereka sangat mementingkan semua dimensi yang ada pada manusia. Karena itu, tujuan pen-didikan dalam filsafat pendidikan Islam bersifat integrasl dan holistik, Paradigma pendidikan holistik mene-kankan pentingnya orientasi pendi-dikan yang lebih mengedepankan keseimbangan antara jasmani dan rohani agar terwujud kedewasaan yang utuh dan paripurna atau dalam tradisi tasawuf disebut insan kamil (perfect man, overman), sosol manusia ideal yang diciptakan Tuhan menurut citra-Nya. Untuk itu, diperlukan inte-relasi yang harmonis antara kesehatan jasmani, kecanggihan intelektual (‘aql), kebersihan hati (qalb), dan kesucian rohani, atau antara fikir dan zikir.
Referensi
Al-Attas, Syekh Naquib, The concept of Education in Islam: A Framework For an Islamic Philosophy, terj. Bagir, Haidar, Koncep Pendidikan Dalam Islam,Bandung: Mizan, 1992.
Ali, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Ali, Sa’id Isma’il, al-Falsafah al-Tarbiah ‘Ind Ibn Sina, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1969.
Ali, Yunasril, Perkembangan Pemi-kiran Falsafah dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Arifin, HM. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Asari, Hasan, The Education Thought of al-Gazali Theory and Practice, , Thesis, Canada: McGill
Univercity,1993.
Asrohah, Hanan, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 2001.
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 2000.
________, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Beavers, Tedd D, Paradigma Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Riora Cipta,2001.
Chittick, William C., Jalan Cinta Sang Sufi Ajaran-ajaran Spiritual Jalalauddin Rumi (diterjemahkan
dari The Sufi Path of Love), Yogyakarta: Qalam, 2003.
Craig, Edward, Routledge’s Encyclo-pedia of Islamic Philosophy, London and New York: Routledge,
1998.
Dasuki, Hafizh, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Dewantara, KI Hadjar, Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama Pendidikan, Jogjakarta: Madjlis Luhur pertjetakan Taman Siswa, 1962.
Deporter, Bobbi, Quantum learning, Bandung: Mizan, 2000.
Eshapi, Larence, Mengajarkan Emo-sional Intelligence pada anak, Jakarta:Gramedia, 2001.
Goleman, Daniel, Emotional Intelli-gence, New York: Bantam Book, 1995. terj. Kecerdasan emosional,
Jakarta: Gramedia, 2001.
Hanafi, Ahmad., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990;
Jalal, Abdullah Fattah, (1988), Asas-asas Pendidikan Islam (terj.) Herry Noer, Bandung, Diponegoro.
Khaldun, Ibn, Muqaddimah, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun,
_________, Muqaddimah ,terj. Thoha, Ahmaddie, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.
Langgulung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992.
Madkur, Ibrahim, Fi Falsafah al-Islamiah Manhaj WaTathbiquh, terj, Wahyudi, Yudian, dkk, Filsafah
Islam Metode dan Penerapan, Jakarta: Rajawali Press, 1991.
Mahmud, Abdul Halim, Pendidikan Rohani, Jakarta: Gema Insani Press, 1991.
Maskawih, Ibnu, Menuju Kesempur-naan Akhlak Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika
(diterjemahkan dari Tahzibul al-Akhlak), Bandung: Mizan,1998.
Miri, Mohsein, Sang Manusia Sempurnma Antara Filsafat islam dan Hindu, Jakarta: Teraju, 2004.
Mustafa, Prof. Dr., Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Muthahari, Murthada, Kritik Islam Atas Materialisme, Bandung: Muthahari Paperback, 2001.
Nasr, Seyyed Hossein, Pengetahuan dan Kesucian, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1990.
_______, Tradistional Islam in the Modern World, London and New
York: KPI, 1987.
Nata, Abuddin, Pemikiran Para Tokoh pemikiran Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2000.
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 2001.
Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000;
Rahman, Fazlur, “Ibnu Sina” Dalam History of Muslim Philosophy, M.M. Sarif, M.A. (editor), Weisbaden: Otto Horrassowitz, 1993.
Segal, Jeanne, Raising Your Emo-tional Intelligence, terj. Ary Nilandri, Melejitkan Kepekaan,
Emosional, Bandung:
Saifullah, Ali, H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Suriasumantri, Jujun S. (1994), Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, sinar Harapan.
Tafsir, Ahmad, (2006), Filsafat Pendidikan Islami, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Tafsir, Ahmad, (2006), Filsafat Ilmu, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Tafisr, Ahmad, (2004), Ilmu Pen-didikan dalam Perspektif Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984;
Zohar, Danah dan Ian Mashall, SQ: Spiritual Intelligece; The Ultimate Intelligece, Great Britain:
Bloomsbury, 2000, terj. Rahmani Astuti, dkk., SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik,
Bandung: Mizan, 2001.
Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar